Jumat, 29 Januari 2016

Sumpah Palsu



Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu, berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa bersumpah dengan sumpah sabar,’ dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘ sumpah dusta karena menginginkan harta seorang Muslim maka kelak Allah akan menemui mereka dengan marah.’ Dalam sebuah riwayat disebutkan juga, ‘maka ia akan duduk di atas tempat duduknya di neraka. Lalu Allah menurunkan penegasan akan hal itu, ‘Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itru tidak mendapatkan bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari Kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih.’ Kemudian Al-Asy’ats bin Qais berkata, ‘Apa yang dikatakan Abu Abdir-Rahman kepada kalian ?’ Mereka menjawab, ‘Begini’. Abu Abdir-Rahman berkata, ‘Ayat ini turun karena aku. Dulu aku pernah mempunyai sumur di atas tanah keponakanku. Namun ia membantah (kepemilikan)ku, maka aku adukan ia kepada Rasulullah. Beliau pun berkata, ‘(Apa) bukti kamu atau (adakah) sumpah orang yang membantah itu.’ Disebutkan dalam sebuah riwayat, ‘Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, (Adakah ) saksimu?’ Aku menjawab,’ Aku tidak punya saksi.’Beliau berkata,’ Sumpahnya?’ Maka aku berkata,’ Jadi, ia harus bersumpah dan membawa pergi uangku.’ Rasulullah berkata,’Barangsiapa bersumpah atas sumpah sabar maka ia telah berbuat dosa…….”(Diriwayatkan al-Bukhary, Muslim dan Ashabus-Sunan).

Dosa-dosa Besar yang paling Besar



Dari Abi Bakrah Radhiyallahu Anhu, berkata, “Rasulullah Shallallahu Anhu berkata, ‘Tidakkah aku beritakan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar---tiga kali.’ Mereka menjawab, ‘Memang, wahai Rasulullah.’ Rasulullah berkata lagi, ‘(Ialah) syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua.’ Kemudian Rasulullah duduk setelah sebelumnya bersandaran seraya berkata, ‘Ingatlah, berbicara dusta.’ Rasulullah mengulang-ngulang kata-kata itu sehingga mengatakan, ‘Seandainya ia diam.’” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim, At-Tirmidzy dan An-Nasay).


Memuliakan Budak dan Pembantu





Dari Al-Ma’rur bin Suwaid berkata, “Aku pernah melihat Abu Dzarr Al-Ghifary Radhiyallahu Anhu sedang mengenakan sepotong baju jubah, juga budaknya yang mengenakan baju serupa. Kemudian aku menanyakan hal itu kepadanya. Jawabnya, “Aku pernah mencaci maki seseorang, lalu orang itu mengadukanku kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian Nabi bersabda, ‘Apakah kamu menghinanya karena ibunya. Sesungguhnya kmau adalah seorang yang pada dirimu terdapat jiwa Jahiliyah.’ Kemudian Nabi menjelaskan, ‘Sesungguhnya saudara-saudara kalian itu pembantu kalian juga, yang Allah jadikan berada di bawah kekuasaan kalian. Maka barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari makanan yang ia makanan dan memberinya pakaian seperti pakaian yang ia kenakan. Janganlah kalian bebani mereka dengan apa yang memberatkan mereka, karena jika kalian membebani mereka dengan apa yang memberatkan maka bantulah.’” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Hak-Hak Jalan



Dari Abi Sa’id Al-Khudry  Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian duduk-duduk di jalanan.” Orang-orang itu berkata, “Kami tidak punya lagi tempat karena jalan itulah tempat kami duduk dan bercengkrama.” Rasulullah berkata, “ Jika kalian menolak untuk tidak duduk di tempat itu, maka berikanlah kepada jalan itu haknya.: Orang-orang itu bertanya lagi, “Dan, apakah hak jalan itu ?“ Rasulullah kembali menjawab, “Menundukkan pandangan, jangan menyakiti, menjawab salam , menyuruh kepada kebaikan dan menahan diri kemungkaran.” (Diriwayatkan Al-Bukhary, Muslim dan abu Daud).